Jalan M. Yamin Bukit Gombak – Batusangkar, Telp. (0752) 71033

Selamat datang di website Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Membangun komunikasi, menjalin silaturahmi, dan berbagi informasi.

RINGKASAN HUKUM-HUKUM PUASA (2)

Nuruddin Falalah

PUASA DAN PERBEDAAN WAKTU

Bagi daerah yang tidak beraturan waktu siang dan malamnya juga dibicarakan dalam fiqh puasa, Majma’ Fiqh Islami memutuskan sesuai dengan OKI sebagai barikut:

Arah yang terletak di garis lintang tinggi dibagi menjadi tiga bagian:

Pertama: Tempat yang malam berkelanjutan  atau siang yang berkepanjangan duapuluh empat jam atau lebih sesuai musim setahun.

Dalam kondisi ini ditetapkan  waktu shalat dan puasa dan lainnya pada tempat itu berdasarkan tempat terdekat dimana ada perbedaan antara siang dam malam selama duapuluh empat jam.

Kedua: Dalam fiqhusiyam negeri yang tidak pernah terbenam disana syafak matahari, sampai terbit fajar dimana tidak bisa dibedakan syafak terbenam dan safaq terbit, di tempat ini ditentukan waktu isya terakhir dan ditentukan waktu imsak dalam berpuasa demikian juga waktu shalat subuh, berdasarkan perbedaan syafak terakhir kali terjadi.

Ketiga: Kondisi munculnya siang dan malam dalam duapuluh empat jam, dan berbeda waktu disana, namun malam lebih panjang sekali dari siang, kadang siang yang panjang sekali, siapa yang tinggal di negeri berbedanya siang dan malam seperti ini, dikecualikan siang yang lebih panjang di musim dingin dan kurang di musim panas ia harus menahan untuk berpuasa setiap hari dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari di negeri mereka selama siang dan malam berbeda, dan akumulasi 24 jam membolehkan mereka untuk berbuka dan boleh makan dan minun dan berhubungan pada malam hari saja walaupun sebentar.

  • Siapa yang tidak sanggup menyempurnakan puasanya karena panjangnya hari atau ia tahu ada tanda-tanda, atau ada pengalaman atau ada pemberitahuan dokter cerdas terpercaya atau ia menyangka menurut zannya bahwa puasa akan menyebabkan sakit yang bersangatan, atau menjadikan ia bertambah sakitnya atau lama sembuhnya, ia boleh tidak berpuasa dan harus menqadha yang tinggal pada bulan-bulan lain.
  • Dalam fiqhushiyam, siapa yang sudah berlebaran pada suatu tempat kemudian berjalan ke tempat yang disana masih berpuasa karena lamanya bulan ramadhan bagi mereka maka orang itu tidak wajib untuk berpuasa seperti mereka, demikian juga siapa yang melakukan perjalanan setelah terbenam matahari ternyata di tempat tujuannya matahari masih bersinar, maka ia tidak wajib untuk menahan juga.
  • Siapa yang memulai berpuasa pada bulan Ramadhan pada satu Negara, kemudian melakukan perjalanan ke negeri yang mereka sudah berlebaran dan ia masih berpuasa kurang dari 29 hari, maka dalam fiqhushiyam ia harus berbuka dengan muslim lainnya pada hari raya, kemudian setelah itu ia harus menyempurnakan puasanya yang tertinggal sehingga jumlah puasanya menjadi 29 hari karena bilangan bulan tidak kurang dari 29 hari.
  • Siapa yang berpuasa di satu negeri 30 hari kemudian melakukan perjalanan ke tempat yang mereka juga berpuasa hari ke 30 mereka maka orang ini haru berpusa seperti mereka, dan tidak mengulang walaupun ia berpuasa lebih dari 30 hari, demikian juga siapa yang melakukan perjalanan satu jam sebelum matahari terbenam dan ia sampai di tujuan sementara mereka masih berada di tengah hari dan orang ini hanya boleh berbuka bersama mereka, kecuali ia ingin berbuka karena rukhshah perjalanan, dan harus menqadha.
  • Dan menjadi hal yang maklum dalam fiqhushiyam bahwa perjalanan di siang hari apabila menuju tempat terbit matahari maka siang akan berkurang dengan perjalanan itu, dan apabila kearah terbenam maka siang akan lama, maka kaedahnya adalah apabila si pelaku perjalanan mengetahui kapan terbenam matahari dari langit negaranya maka ia harus memengang itu, kemudian ia berbuka apabila tebenam matahari ketika itu walaupun waktu puasanya kurang dari lima jam, dan walaupun ia berpuasa lebih dari 24 jam, maka yang menjadi patokan adalah waktu tempat tinggalnya, dan dibatasi dengan waktu diudara bukan di bumi, dan apabila matahari telah terbenam di negeri tujuan perjalanannya namun karena ia di ketinggian masih keliahatn terang maka ia tidak boleh berbuka kecuali ketika terbenam dari panadangannya ini pendapat dar ifta’ Saudi.

PUASA DAN SAKIT

  • Sakit apabila puasa menjadi penyebab bertambah sakitnya atau peyebab keterlambatan sembuhnya, atau penyebab datangnya kesusahan bagi penderitanya maka ia di beri ruskhsah untuk tidak berpuasa di dalam fiqhushiyam, namun ia harus menqadha yang tertinggal pada hari lain, dan ini bisa dilakukan dengan sekedar mengikuti zan terhadap hal diatas. Dan zan ini diketahui dengan dua cara:
  • Satu: Pengalaman pripadi, atau pengalaman penderita sakit yang sama.
  • Dua: diberitahu dokter muslim yang terpercaya, syaikh Ibnu Utsaimin membolehkan menerima perkataan dokter non muslim apabila ia dikethaui mahir terhadap masalah itu, dan ini melapangkan saudara kita yang hidup di barat.
  • Apabila si penderita memaksakan diri untuk berpuasa maka puasanya diterima, namun dimakruhkan apabila sakitnya berat, dan diharamkan apabila sakit membuatnya binasa.
  • Siapa yang sakit maka boleh berniat membatalkannya dari malam, dan tidak mengapa apakah ia sanggup menyempurnykannya atau tidak; karena pada asalnya ia sakit.
  • Apabila ia mengetahui sendiri atau dari dokter bahwa puasa menyebabkan pingsan maka ia boleh berbuka, dan ia harus mengqadha menurut Ibnu Taimiyah.
  • Siapa yang pingsan  di siang hari kemudian siuman sebelum magrib maka puasanya sah selama ia masih berpuasa, namun apabila pingsannya dari fajar sampai maghrib maka jumhur  berpendapat bahwa puasanya tidak sah.

Penerjemah: Muhammad Abrar Ali Amran, Lc. MA.

Sumber: https://islamonline.net/archive/مجمل-أحكام-الصيام

 5,206 total views,  2 views today

Berita Terkini
Peta Lokasi Kemenag Tanah Datar
Temukan Kami di Facebook

Statistik Pengunjung

0 6 4 8 2 3
Users Today : 8
Users Yesterday : 47
Views Today : 13
Views Yesterday : 111
Who's Online : 0
Your IP Address : 3.236.52.68

 


Jadwal Shalat Hari ini



Kategori Tulisan
Arsip Tulisan

 

Ikuti Kami di Twitter
Panel Login
Pencarian
Dokumentasi Kegiatan
Klik Slideshow di bawah untuk
melihat Galeri Foto secara lengkap
Kakamenag ...
Kakanwil m...
Kemenag be...
Penyerahan...
Raker 01
Raker 02
Raker 03
Raker 04
Agenda Kegiatan
Oktober 2022
S M T W T F S
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5
Info Keberangkatan Haji
Nomor Porsi
Tanggal Lahir
 Format Tanggal : dd-mm-yyyy
Contoh : 20-12-1958
 
 
* Perkiraan Berangkat dapat digunakan sehari setelah pendaftaran