Jalan M. Yamin Bukit Gombak – Batusangkar, Telp. (0752) 71033

Selamat datang di website Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Membangun komunikasi, menjalin silaturahmi, dan berbagi informasi.

RINGKASAN HUKUM-HUKUM PUASA (1)

Nuruddin Falalah

Ini adalah ringkasan hukum puasa, sengaja saya buat agar mudah dipahami, di dalamnya saya letakkan masalah-masalah paraktis yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya, jauh dari teori yang biasa dipakai para peneliti, secara ringkas diambil dari kitab-kitab fiqih. Dan ia mencakup permasalahan yang banyak dintanya orang dalam bab ini, dan kita ambil dari syarahan fikih puasa, dan jawaban-jawaban dari fatwa-fatwa tahun-tahun berlalu.

Kalau disana ada perselisihan kami akan sebutkan, dan kalau itu kesepakatan pun akan kami jelaskan mengkritisi majma’ alfiqh al Islami  Organisasi Konferensi Islam (OKI) kami pakai beberapa pendapat tentang yang membatalkan puasa, dan kami sajikan beberapa fatwa personal, demikian juga di setiap fatwa  fatwa kolektif tentang kasus ini.

Kami belum sempat mengatribusi pendapat-pendapat kepada pemiliknya takut kepanjangan, dan kebanyakan tarjih yang kami pakai dari pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitab syarah fiqh shiam dan muridnya Ibnu al-Qayim.

PENGERTIAN FIQH PUASA

Pemahaman Puasa secara bahasa adalah: menahan, dan menurut syara’ adalah menahan dua syahwat perut dan kemaluan, dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

PUASA RAMADHAN

Hukumnya: bagian dari rukun Islam,  dan ia adalah kewajiban yang ditetapkan dengan yakin dan mutawatir, yang semua orang mengetahuinya serta merta dalam Agama ini, oleh Karena itu ulama mengkafirkan siapa saja yang mengingkari kewajiabn puasa ramadhan, atau dikeragui keimannya, atau di takutkan demikian dan di anggapap uzur atas ketidak tahuannya karena baru masuk Islam.

Waktu diwajibkannya: pada tahun ke dua Hijriah, dan Nabi wafat setelah berpuasa enam kali Ramadhan.

MENETAPKAN BULAN RAMADHAN

Ditetapkan dengan melihat hilal seperti bulan qamariayah lainnya

Tiga macam cara penetapan hadirnya hilal.

Pertama: Melihat Hilal, disini berselisih para ulama ada yang mencukupkan dengan melihat seorang saja, dan ada yang mensyaratkan paling kurang dua orang, dan ada yang mensyaratkan banyak orang apabila cuaca bagus.

Kedua: Menyempurnyakan bulan sya’ban menjadi 30 hari,  apabila muncul hilal pada malam ke 30 dan mereka tidak melihatnya maka harus menyempurnakan bulan sya’ban, jadi melihat hilal hukumnya adalah fardu kifayah.

Ketiga: Hisab. Kebanyakan lembaga fiqh menyebutkan kemungkinan menolak kesaksian penglihat hilal apabia hisab dilakukan dan mustahilnya melihat hilal, akan tetapi pendapat ini tidak beruntung  karena ketetapan lembaga fatwa dan kedua perkumplan fikih islam antara oki dan Persatuan Alam Islam bahwa yang dianggap adalah penglihatan mata telanjang, dan tidak dianggap hisab ilmu perbintangan, akan tetapi mereka membolehkan hisab sebagai bantuan saja dan sebagai penyidik namun yang bisa dianggap patokan adalah penglihatan mata.

LALAI DARI HILAL SAMPAI PAGI

Apabila bukti telah menetapkan bahwa Ramadhan telah masuk di pertengahan siang maka setiap orang waktu itu harus berniat puasa, dan jumhur berpendapat untuk mengqadha hari itu, dan dalam fiqh puasa Sheikh al-Islam memilih, untuk tidak mewajibkan mengqadha dan ini adalah pendapat yang shahih.

Dan dalam fiqhushshiyam apabila hilal terlihat disatu daerah bukan di yang lainnya, maka para ulama masih berselisih tentang ini, apakah daerah yang tidak kelihatan berpuasa atau bagaimana? Dan perbedaan ini diterima dan banyak.  Oleh karena itu lembaga-lembaga fiqih berbeda pendapat tentang masalah ini,  disatu kesempatan Majma’ Munazzamah di daurahnya yang ke tiga membatalkan matla’ lebih dari satu, sedangkan Majma’ Rabithah di Daurah keempatnya tidak mempermaslaahkan banyaknya matla’ dan berpendapat bahwa setiap Negara mempunyai matlak sendiri-sendiri.

HUKUM PUASA RAMADHAN

Dalam fiqh, puasa wajib bagi setiap muslim yang baligh berakal yang mukim dan sehat, dan diharamkan atas wanita haid dan nifas, dan dimakruhkan bagi musafir apabila puasa melemahkannya, dan disunnahkan bagi anak kecil, sementara baligh ditandai dengan sampai umur limabelas tahun, tumbuh rambut kemaluan, keluar mani dengan syahwat, dan bagi wanita empat hal yang tiga diatas ditambah dengan haid, apabila seorang wanita telah haid berarti ia telah baligh walaupun masih sepuluh tahun.

PUASA DAN AKAL

Dalam fiqh puasa, orang gila tidak wajib berpuasa, karena tujuan perkataan Allah kepada orang yang berakal dan bagi orang gila temporer maka ia wajib berpuasa dikala sadar saja.

Siapa yang ditimpa pingsan atau koma atau sedang memakai resusitasi buatan, atau sedang dalam tidak sadar karena obat bius seperti orang yang sedang menjalani operasi, maka jumhur ulama mewajibkan mereka mengqadha puasa mereka yang tertinggal di bulan ramadhan ketika mereka tidak sadar, dan sebahagian ahli fikih perpendapat bahwa mereka tidak wajib mengqadha karena mereka tidak dianggap mukallaf ketika itu, Syaikh al-Qaradhawi mengenengahi permasalahan ini dan berpendapat bahwa orang yang pingsan dalam waktu yang panjang tidak ada taklif bagi mereka sementara mereka yang pingsan dalam waktu yang singkat mereka masih dianggap mukallaf dalam batas dua hari.

Dan siapa yang mencapai usia demensia maka ia tidak wajib berpuasa dan tidak ada kewajiban apa-apa bagi keluarganya karena taklif gugur bagi mereka, dan jika terkadang sadar dan terkadang mengigau maka ia wajib berpuasa ketika sadar dan tidak wajib dimasa igaunya.

WANITA HAID DAN NIFAS

Tidak wajib bagi wanita haid dan nifas untuk berpuasa berdasarkan kesepakatan dalam fiqh puasa, dan apabila mereka berdua berpuasa maka mereka berdosa, dan bagi mereka kewjiban menqadha yang tertinggal tidak dengan shalat.

Dan apabila mereka suci di siang hari Ramadhan maka hendaknya menahan dari waktu suci tersebut untuk menghormati bulan teresebut, dan dikatakan dalam fiqhushiyam mewajibkannya bukan anjuran dan kedua kondisi tersebut mewajibkan mereka menqadha.

PIL PENUNDA HAID

Wanita lebih baik menerima kelumrahan yang Allah berikan sebagaimana ia juga menerima keadaan tersebut sebelumnya, dan siapa yang memakai apapun yang menunda haidnya untuk dapat berpuasa tidak mengapa selama tidak mendatangkan mudharat.

Haid adalah: darah hitam pekat saja, yang dikenal melalui derasnya dan bau aromanya, adapun selain itu sekresi keruh kotor atau kuning atau selainya bukanlah haid baik sebelum atau setalah haid menurut pendapat yang shahih, dalam permasalah ini banyak perbedaan, dan pendarahan pada wanita tidak menghalangi puasa dan tidak diambil hukum haid di situ.

Nifas apabila telah berhenti darahnya dan tidak mengulang lagi ia dianggap suci walaupun satu jam setelah melahirkan dan apabila belum berhenti maka paling lama 40 hari dan apa  yang lebih dari masa itu bukanlah nifas.

PUASA DAN PERJALANAN

Umat sepakat bahwa berbuka bagi musafir adalah hak mereka, sampai Syaikh Islam mengatakan bahwa orang yang mengingkari itu dicela bahka bisa dihukum murtad; karena itu serta merta diketui dalam Agama ini, dan sebahagian sahabat mewajibkan berbuka dalam perjalanan kecuai jumhur ulama mebolehkan tidak mewajibkannya. Dan perjalanan itu sendiri adalah diantara pemboleh berbuka baik pelakunya capek, susah ataupun tidak.

Dan yang masyhur dalam fiqh puasa dan mazhab-mazhab bahwa jarak yang membolehkan qasar sekitar 80 atu 90 kilometer akan tetapi Ibnu Qayim menjelaskan bahwa batasan ini tidak memiliki dasar, dan semua yang menurut kebiasaan adalah perjalanan maka ia membolehkan berbuka walaupun jauh lebih  singkat dari jarak di atas sebagaiman Dahiyah al-Kalbi –salah seorang sabahat-  menshahkan untuk berbuka pada jarak tiga mil atau sekitar Sembilan kilometer.

Berbuka dibolehkan dalam Fiqhushiyam, walaupun tidak menemui kesusahan, jadi boleh bagi yang melakukan perjalanan dengan pesawat terbang untuk berbuka, dan ulama berbeda pendapat tentang mana yang afdhal antara keduanya, berpuasa atau berbuka? Yang paling tepat adalah mana yang lebih mudah bagi mereka antara keduanya dan ini adalah pendapat Syaikh Alqaradhawi.

Dan kebanykan mazhab fiqh mensyaratkan bagi musafir yang untuk berpuasa kecuali setelah meninggalkan tempat tinggalnya, dan pendapat yang shahih mengatakan bahwa itu bukanlah menjadi syarat, karena pernah Anas bin Malik berbuka sebelum ia menaiki tunggangannya dan ia baru memakai pakaian perjalanannya, dan ini juga pendapat Ibnul Qayim.

Dan berbeda pendapat ulama dalam fiqhushiyam tentang pembolehan berbukanya musafir pada hari ia sampai ke tampat tujuan sebelum magrib, dan Jumhur (diantaranya Abu Hanifah Mali Syafii RA) berpendapat bolehnya orang ini berbuka, sedangkan Imam Ahmad RA mengharuskan orang ini berpuasa, dan Syeikh Ibnu Usaimin  mengatakan “yang shahih adalah harus berpuasa”

Apabila seroang musafir kembali ke tempat asalnya pada siang hari dan ia sedang tidak berpuasa apakah ia wajib menahan begitu sampai ditempat akan tetapi ia wajib mengqadha, menahan ataupun tidak.

Ada dua penyebab kenapa para ulama tidak membolehkan berbuka bagi orang yang sampai di tempat tujuan sebelum magrib.

Pertama: Orang yang memulai perjalanannya di siang hari dalam keadaan berpuasa maka ia tidak boleh berbuka.

Kedua: dalam Fiqhusiyam, siapa yang berjalan dan telah berniat sebelum fajar maka ia tidak boleh membatalkan niatnya dan berbuka setelah fajar walaupun masih berpuasa.

Yang shahih adalah bahwa bagi musafir boleh berbuka dalam kedua keadaan itu.

Imam al-Qurtubi mengingatkan bahwa siapa yang ber azam melakukan perjalanan dalam bulan ramadhan subuh hari tersebut hendaknya tidak berniat puasa sampai benar-benar berjalan; karena ia telah melakukan apa yang menghalanginya untuk berpuasa.

Dibolehkan berbuka bagi musafir walaupun perjalanan itu sudah menjadi kebiasaannya selama ia mempunyai tempat bermukim (seperti Sopir taksi, Pilot dan pelayar) walaupun perjalanan mereka setiap hari dan mereka wajib menqadha, dan jika salah seroang dari mereka tidak mempunyai tempat bermukim seperti pelayar yang semuanya ia bawa seperti kebutuhannya, istri dan anaknya maka tidak diberi kemudahan untuk berbuka.

Penerjemah: Muhammad Abrar Ali Amran, Lc. MA.

Sumber: https://islamonline.net/archive/مجمل-أحكام-الصيام

 3,413 total views,  1 views today

Berita Terkini
Peta Lokasi Kemenag Tanah Datar
Temukan Kami di Facebook

Statistik Pengunjung

0 6 4 8 2 7
Users Today : 12
Users Yesterday : 47
Views Today : 19
Views Yesterday : 111
Who's Online : 0
Your IP Address : 3.236.52.68

 


Jadwal Shalat Hari ini



Kategori Tulisan
Arsip Tulisan

 

Ikuti Kami di Twitter
Panel Login
Pencarian
Dokumentasi Kegiatan
Klik Slideshow di bawah untuk
melihat Galeri Foto secara lengkap
Kakamenag ...
Kakanwil m...
Kemenag be...
Penyerahan...
Raker 01
Raker 02
Raker 03
Raker 04
Agenda Kegiatan
Oktober 2022
S M T W T F S
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5
Info Keberangkatan Haji
Nomor Porsi
Tanggal Lahir
 Format Tanggal : dd-mm-yyyy
Contoh : 20-12-1958
 
 
* Perkiraan Berangkat dapat digunakan sehari setelah pendaftaran