Jalan M. Yamin Bukit Gombak – Batusangkar, Telp. (0752) 71033

Selamat datang di website Kementerian Agama Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat. Membangun komunikasi, menjalin silaturahmi, dan berbagi informasi.

KHUTBAH TENTANG KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

((SHAHIH DAN DHA’IF))

Saudaraku,

Allah SWT berkata dalam Al-Quran “Siapa yang kafir maka ia sendirilah yang akan menanggung kekafirannya itu, dan siapa yang mengerjakan kebajikan maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan)” Arrum. 44. Siapa yang ingin kafir maka untuk dirinya, ia akan menanggung akibat perbuatannya, dan siapa yang beramal shaleh balasannya juga untuk dirinya –bukan untuk orang lain- mempersiapkan, mereka mempersiapkan tempat tidur mereka dalam kuburan mereka dan mempersiapkan tempat tinggal mereka di syurga dan mempersiapkan jalan yang akan mereka lalui menuju Allah.

Memempersiapkan layaknya seseorang mempersiapkan kasur mereka sebagaimana mereka berbaring di tempat tidur, apabila ada sesuatu disana yang menyakiti badan dan punggung mereka maka akan mereka rasakan, demikianlah keadaan orang beriman, mempersiapkan artinya beramal untuk akhirat.

Mujahid bin Jabr salah seorang mufasir dari tabi’in berkata, makna firman Allah “Mempersiapkan untuk dirinya” artinya membuat tempat tidur dalam kubur mereka, dibuat senyaman mungkin, dan tidak akan didapat kenyamanan itu kecuali dengan rahmat Allah, yaitu dengan taufiq dari allah yang telah menjadikan ia bisa beramal shaleh yang akan melapangkan kuburannya, dan meninggikan derjatnya disisi Allah.

Saudaraku, diantara amal shaleh yang termasuk dalam mempersiapkan itu adalah mempergunakan kesempatan untuk beramal shaleh di masa lalai, dan diantara masa lalai adalah bulan Sya’ban yang kita hadapi sekarang.

Para salafusshaleh apabila memasuki bulan Sya’ban mereka berlutut di mushaf mereka, mereka menunaikan zakat mereka, sehingga nanti mereka tidak disibukkan lagi pada bulan Ramadhan, dan mereka leluasa beribadah dan taat pada bulan Ramadhan.

Diantara amal terbaik yang dilakukan manusia –atau sebagian manusia hari ini— mereka meninggalkan kebutuhan mereka untuk orang lain baik perhiasan, pakaian dan lainnya, mereka lakukan itu pada bulan Sya’ban ini, tidak melakukan sebagaimana kebanyakan orang, menyia-nyiakan waktu yang berkah ini, apalagi di sepuluh akhir bukan Ramadhan, mereka sia-siakan waktu mereka dengan mondar mandir ke pasar, membeli pakaian dan kebutuhan lainnya.

BILANGAN BULAN DI SISI ALLAH

Saudaraku, bulan mulia ini, bulan Sya’ban, termasuk bulan Allah karena Beliau berkata “bilangan bulan disisi Allah duabelas dalam kitabullah, sedari dicipakannya langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram”

Bulan Sya’ban dinamakan dengan Sya’ban karena orang arab terpecah dan terpisah pada bulan itu setelah bulan haram yaitu Rajab, ia adalah bulan termashur. Bulan Ramadhan dinamakan dengan itu karena cuaca panas dan derjat tinggi yang membakar. Zulqaidah karena mereka qaid atau duduk dari berperang. Zulhijjah karena mereka berhaji pada bulan ini, dinamakan Muharram karena diharamkan berperang di sana, dan dinamakan Safar (kosong) karena rumah mereka kosong pada bulan itu karena merek bertebaran untuk berperang setelah bulan Muharram, Dinamakan Rabi’ karena mereka kembali dan melalui bulan ini pada masa musim semi, dan dinamkan Jumadi (beku) karena air membeku pada dua bulan ini karena dingin, dan dinamakan bulan Rajab karena diambil dari tarjib yang artinya membesarkan.

Orang Arab tidak akan memperikan suatu nama kecuali karena ada artinya.

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN

Banyak keyakinan manusia pada bulan ini, diantaranya ada yang shahih dan diantaranya ada yang batil,  Apa yang datang tetang bulan itu? Apa keutamaan bulan ini? Apakah ada keutamaannya dibanding bulan lain, apakah sahih apa yang datang tentang nisfu sya’ban, apakah benar disunnahkan mangkhususkan qiyam pada malamnya dan siangnya berpuasa? Dan apakah boleh seseorang berpuasa begitu masuk paroh bulan  sya’ban? Apakah amal shaleh dalam bulan ini mempunyai nilai lebih? Ini yang akan kita jawab dengan ringkas.

Ketahuilah bahwa hadis hadis tentang keutamaan bulan Sya’ban kebanyakan tidak sahih, memang benar bahwa Nabi SAW berpuasa bulan ini dan ada hadis Aisyah mengatakan bahwa Beliau berpuasa pada bulan Sya’ban ful, dan dalam shahin Muslim bahwa Beliau sedikit berpuasa pada bulan Sya’ban, inilah yang shahih sebagaimana terdapat dalam sahih Bukhari dari hadis Aisyah RA bahwa ia berkata: saya tidak melihat Rasulullah menyempurnakan puasanya sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan saya tidak melihat ia berpuasa lebih banyak dari itu di bulan Sya’ban.

Ini adalah bulan  muqaddimah, pengantar dan pembuka untuk bulan Ramadhan dan untuk membiasakan jiwa untuk ketaatan dan ibadah. Dan Nabi SAW pernah ditanya sebagaimna diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dengan sanad yang baik, ia ditanya tentang puasanya di bulan ini –bulan sya’ban- maka ia berkata dengan indah dan dengan jawaban yang mengejutkan “itu adalah bulan yang banyak orang lalai disana antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan diangkatnya amal kepada Rabb Tuhan semesta Alam, dan saya suka amal saya diangkat dan saya sedang berpuasa”

Jadi ini adalah bulan yang banyak orang lalai, dan kita bisa simpulkan dari ini bahwa beribada pada waktu-waktu lalai memiliki pahala yang besar, tidakkah engkau lihat bahwa manusia apabila shalat pada waktu sahur dimana banyak orang yang lalai karena tidur mempunyai keutamaan yang besar! Demikian juga ibadah manusia di akhir zaman ketika banyak kekacauan, banyak fitnah dan ada diantara manusia yang menjadi penyembah  (ubbad) ((Mereka yang bertaubat, beribadah, memuji, mengembara (mencari ilmu), sujud, ruku’, menyuruh kepada yang baik melarang kepada yang mungkar, menjaga batasan-batasan Allah))Attaubah.112  merekalah orang beruntung sebenarnya. ((Mereka tidak disibukkan oleh berniaga dan jual beli dari berzikir kepada Allah)) Annur. 37, Mereka tidak disibukkan oleh apapun dan tidak dimudharakan oleh fitanah.

Nabi SAW memberitahun bahwasanya amal diangkat pada bulan ini dimana amalan diangkat setiap harinya namun yang dimaksud adalah amalan tahunan manusia, dan beliau sangat menyukai amal diangkat dalam keadaan berpuasa.

KEUTAMAAN NISFU SA’BAN

Adapun hadis-hadis yang datang tentang nisifu sya’ban dibagi menjadi dua bagian, ada hadis yang megkhususkan qiyam pada malam itu, dan menghkhususkan berpuasa pada siang harinya. Para ulama mengatakan hadis-hadis itu semuanya bathil. Dan imam Syaukani mengatakan: Hadis-hadis itu semuanya maudhu’ tidaklah sahih dan juga tidak marfu’.

Tidak dibolehkan bagi manusia untuk mengkhususkan satu malam walaupun malam itu mempunyai keutamaan, mengkhususkannya untuk qiyam ataupun beribadah apapun, sebagaimana perkataan Nabi SAW  tentang malam jum’at dan siangnya. Nabi berkata dalam hadis sahih “jangan kalian khususkan malam jum’at untuk qiyam diantara malam yang lain, dan jangan khususkan hari jum’at untuk berpuasa diantara hari yang lain, kecuali hari-hari puasa kalian)).

Walaupun hari dan malam itu adalah hari dan malam yang utama.

Adapun tentang keutamaan malam tersebut ada beberapa hadis menyinggungnya; yang paling sahih atau yang dihasankan ahli hadis, bahwa Nabi SAW berkata; “Tuhan kami turun ke langit dunia pada malam pertengahan Sya’ban dan mengampunkan siapa saja kecuali yang berbuat kemusyrikan atau seorang  lelaki yang ada syahna’” syahna’ adalah orang yang hatinya ada permusuhan dan kemarahan, dan ini berlaku sampai ia menyelesaikan permusuhan dan kemarahannya.

Hadis lain datang “Sesungghunya Allah Azza wa Jalla turun pada malam nisfu Sya’ban ke langit dunia maka ia ampunkan lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb” Kalb adalah kabilah terkenal dengan dombanya mereka mempunyai banyak domba.

Ketika Allah mengmpunkan sejumlah itu maka sesungguhnya Allah mengampunkan dengan jumlah yang lebih dari jumlah bulu domba tersebut, kemuliaan Allah sangat luas, namun kesahihan hadis ini diperselisihkan.

Dan hadis pertama diatas sudah ditakwil bahwa Allah mengampunkan manusia pada malam itu.

Adapun berpuasa di pertengahan Sya’ban ada hadis sahih menyinggungnya bahwa Nabi SAW berkata “apabila masuk paruh bulan Sya’ban maka janganlah berpuasa” berbeda para ulama setelah itu mengenai makna hadis ini, karena bertentangan dengan hadis-hadis yang mengatakan bahwa Rasulullah berpuasa di sebagian kecil bulan Sya’ban, dua hadis ini di gabungkan bahwa yang dimaksud adalah bagi siapa yang ingin memulai berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban, dan itu bukan kebiasaannya, dan juga bukan caranya berpuasa, bahwa ia berpuasa apa yang disepakati saja pada bulan ini atau puasa lebih banyak. Akan tetapi memulai puasa itu di dua hadis ini di pertengahan bulan Sya’ban.

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mengkhususkan puasa pada pertengahan bulan Sya’ban yaitu empabelas, limabelas dan enambelas.

Walau bagaimanapun, tidak boleh seseorang menyengaja berpuasa hari ini, dan pintu untuk berpuasa pada bulan ini  tebuka tanpa menyengaja dan qasdu.

Kita memohon untuk dikuatkan mengikuti Nabi SAW di setiap urusan, dan agar diberi kekuatan untuk berbuat ketaatan dimasa lalai, dan agar memberi ilham kepada kita untuk beramal shaleh, makan yang halal dan baik, dan agar membantu kita mendirikan shalat, menunaikan zakat, berbuat baik, dan berlomba  dan bersegera kepadanya sesungguhnya Ia Maha Mendengar, Dekat, Mengabulkan doa-doa.

Barakallah…  

Penerjemah: Muhammad Abrar Ali Amran, Lc. MA.

Sumber: https://www.almazeyd.com/خطبة-فضل-شهر-شعبان.html

 2,734 total views,  1 views today

Berita Terkini
Peta Lokasi Kemenag Tanah Datar
Temukan Kami di Facebook

Statistik Pengunjung

0 6 4 8 2 8
Users Today : 13
Users Yesterday : 47
Views Today : 20
Views Yesterday : 111
Who's Online : 1
Your IP Address : 3.236.52.68

 


Jadwal Shalat Hari ini



Kategori Tulisan
Arsip Tulisan

 

Ikuti Kami di Twitter
Panel Login
Pencarian
Dokumentasi Kegiatan
Klik Slideshow di bawah untuk
melihat Galeri Foto secara lengkap
Kakamenag ...
Kakanwil m...
Kemenag be...
Penyerahan...
Raker 01
Raker 02
Raker 03
Raker 04
Agenda Kegiatan
Oktober 2022
S M T W T F S
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5
Info Keberangkatan Haji
Nomor Porsi
Tanggal Lahir
 Format Tanggal : dd-mm-yyyy
Contoh : 20-12-1958
 
 
* Perkiraan Berangkat dapat digunakan sehari setelah pendaftaran